Hidup ini bukanlah tujuan, melaikan perjalanan. Barangkali, kita banyak bertanya tentang apa tujuan kita di dunia ini, tanpa kita sadari ternyata pertanyaan itulah yang menjelaskan apa yang kita cari, jawaban. Jawaban tentang sebenarnya hidup ini mau kemana, kita mencari jawaban, dan jawaban itu adalah tujuan kita saat ini. Nanti, kalau jawaban itu sudah kita temukan. Ya, itu akan menjadi tujuan yang baru.
Tidak masalah seberapa sering kamu merasa kepayahan, aku yakin kamu selalu bisa berdiri lagi dan melewatinya. Tidak masalah jika belum saat ini, aku yakin kebaikan punya tempat, waktu dan caranya sendiri untuk menemui jalanmu. Tidak masalah jika kamu kerap menjumpai lelah, ingatlah semua yang menekanmu adalah bagian dari sebuah penceritaan yang sudah sangat baik kamu lewati sejauh ini. Kamu sudah hebat, jangan berhenti. Untuk mengingatkanmu, semua orang layak mendapatkan kasih sayang dan tidak satupun yang ada dalam pengecualian. Teruntuk siapapun, bukankah perasaan yang paling destruktif adalah merasa sendiri dalam ketertinggalan? Semoga kamu selalu ingat, bahwa ada orang lain di luar dirimu, mereka menghargai dan menyayangimu. Tidak perlu menghabiskan energi untuk memusingkan orang-orang yang tidak memahamimu, mereka akan selalu seperti itu dan kamu pun tidak kekurangan apa-apa tanpa mereka. Percayalah kamu selalu bisa membuat semuanya baik-baik saja. — Kemarin aku menonton film judulnya Predestination, benar-benar aktualisasi dari love yourself yang ga kepikiran. Aku senang dengan kegiatanku saat ini, aku selalu bersyukur bertemu dengan orang-orang yang baik. Pencernaanku kembali bermasalah, mereka bilang jangan stress. Tidak aku hanya kangen Ibu dan Ayah. Belum pernah aku pergi sejauh dan selama ini dari mereka sejak aku lahir. Aku tidak pernah kekurangan perhatian, dan juga pola makanku baik bersama Ayah dan Ibu. Mereka yang paling mengerti dan menyayangiku, tapi aku harus bisa. Semua kebaruan ini nantinya akan menjadi bagian dari diriku. Terbiasalah, semua kebaikan akan datang pada waktu, tempat, dan caranya sendiri. Kamu selalu bisa membuat semuanya baik-baik saja.
Berbaiksangkalah — Berbaiksangkalah sebaik-baiknya yang kamu bisa. Jika rasanya seperti menelan duri, percayalah kamu hanya perlu lebih banyak waktu lagi. Biarkan orang lain meyakini apa yang mereka ingin yakini, itu sudah menjadi sebuah pilihan. Yang menjadi urusanmu adalah untuk tetap mempercayai kebaikan. Sepekat apapun rasanya, ketahuilah bahwa semua ini terkonstruksi searah jarum jam. Kita tidak pernah berjalan terpisah dengan waktu, semuanya memiliki masa. Aku harap, kamu selalu bisa menunggu dalam ketenangan. Tolong jangan terlalu khawatir, ingat kamu selalu bisa membuat semuanya baik-baik saja. Tidak ada selamanya, sebaik-baik waktu adalah saat ini. Semoga kita tidak menjadi bagian dari jiwa-jiwa yang ditunggangi benci dan terbakkar habis oleh rasa marah yang tidak berkesudahan. Tidak ada detik yang berjalan mundur, semoga kita bisa mengilhami seni lapang jiwa untuk menyelami makna maaf. Membutuhkan jiwa yang besar untuk menerima permintaan maaf, dan jiwa yang jauh lebih besar lagi untuk mengutarakan maaf. Semoga kita selalu menjadi bagian dari mereka yang terus mengingat, bahwa kita adalah ketidaksempurnaan yang bernyawa. Bukankah terlalu angkuh untuk terus-menerus menenggelamkan diri dalam egoisme dan berteriak lantang bahwa akulah yang paling benar. Sampai habis udaramu, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dari gusarmu itu. Tidak ada selamanya. Dan pada akhirnya, semua ingin diingat dengan baik. Berbaiksangkalah. Berbaiksangkalah sebaik-baiknya yang kamu bisa. Jika rasanya seperti bernafas di dalam air, kamu hanya butuh daratan untuk menepi.
Saat hari-hari berganti hingga aku bertemu dengan satu hari baru lagi, aku menyimpan tabungan pertanyaan yang kutanyakan pada diriku setiap hari, “Apakah benar lelahku lillah?” Pertanyaan itu tidak mengganggu, namun mengusik hati dan nurani untuk memikirkannya lebih dalam lagi. Azzamku, aku benar-benar ingin menemukan jawabannya.
Biar lelah asal lillah. Entah mengapa terkadang di telingaku kalimat itu terdengar seperti slogan belaka. Ramai-ramai orang mengatakannya meski mungkin tak semua memahami dan memaknainya. Hmm, mungkin begitu juga denganku, hanya ikut-ikutan saja dengan apa yang kebanyakan orang katakan.
Lalu aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, “Aku berlelah karena-Nya, bagaimana bisa aku melakukannya jika aku sebenarnya tidak mengenal diriku sendiri hingga aku tidak mengerti mengapa aku harus mengabdi pada-Nya? Aku berlelah untuk-Nya, bagaimana bisa jika aku sebenarnya tidak mengenal-Nya hingga aku tidak mengerti mengapa Dia harus menjadi yang segalanya?” Tanya itu menggantung di langit-langit pemikiran, juga perasaan. Lama sekali.
Hingga saat aku mengenal diriku sebagai hamba-Nya, semua menjadi masuk akal bagiku mengapa Dia menjadi yang segalanya. Terang saja, sebab aku ini adalah ciptaan, maka aku harus taat pada yang menciptakan. Aku ini adalah budak, maka aku harus taat kepada tuannya. Aku berharap hidup dan mati dengan selamat, maka tak ada yang lain yang menjadi caranya selain menjadi sebaik-baik hamba.
Pun dengan perkenalanku tentang-Nya, semua membuatku merasa apa yang tidak kumengerti selama ini menjadi semakin jelas adanya. Terang saja, sebab Dia menciptakanku, memeliharaku, mendidikku, juga menjadi tempat kembaliku. Meski Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun dariku, tapi aku membutuhkan-Nya. Meski kemuliaannya tidak akan menurun hanya karena aku tidak menaati-Nya, tapi aku yang butuh taat kepada-Nya.
Maka kini aku mengerti, bahwa lelah yang lillah adalah sebuah cara untuk mengabdi.
Juli 2017, sekitar akhir bulan Juli untuk pertama kalinya aku mencoba untuk menjadi seorang imigran dari Bandung menuju kota kaum wisata, sendirian dengan jarak sekitar kurang lebih 8-9 jam lamanya. Berat rasanya meninggalkan zona nyaman yang aku bangun 19 tahun yang lalu untuk mencoba tantangan hidup yang harus aku lalui saat itu. Setibanya aku di kota istimewa tersebut, aku resah. Aku rindu sekali dengan ketenangan aku yang telah ku tanam sejak dulu. Ketika langit di kota tersebut mendung itu sama halnya dengan hati ku yang rindu akan ke sejukan dari wanginya batagor kuah H. Ihsan. Benar kata dilan, “rindu itu berat, kamu ga akan kuat biar aku saja”.
2 minggu lamanya aku harus menetap di kota istimewa jauh dari orang orang yang kusayangi. Walaupun ada akses video call on whatsapp or line, tapi aku tetap merindukan suasana kehangatan Bandungku. Hari pertama ku dikota istimewa, mulai merasakan kesenangan karena aku menemukan warung soto yang enak sekali kurang lebih jaraknya 1 km dari stasiun tugu. Dan tertiba saatnya aku masuk ke dalam hutan belantara. Jreng……
Hari itu aku menjadi seorang power girl yang harus terbiasa sendiri. Tapi sekarang juga masih sendirian sih hahaha kode terusssss…. senangnya ketemu banyak orang baru, keluarga baru, teman baru, sahabat baru, dari orang pekanbaru, bengkulu, lampung, bekasi, semarang, purwokerto, kalimantan, banyumas, yogyakarta, palembang, and a lot of…. di minggu pertama ini aku senang sekali terasa nyaman tanpa aku harus buat beberapa lama, sesederhana itu kan nyaman. Pada saat malam minggu sekitar jam 23.00 WIB, aku dan teman teman bermain ‘werewolf’ di sebuah angkringan di daerah sapen gunung kidul. Aku bertemu dengan teman aku yang seumuran lebih tua aku sih 4 bulan, sama sama orang palembang, dan memiliki hal yang sama yang kita suka.
Hal itu membuatku senang, dan aku makin betah di kota ini. Akan tetapi 1 minggu sebelum kepulangan aku ke Bandung, aku benar benar ingin pulang hari itu juga. Aku merasa home sick. Aku merasa rindu berat dengan keluarga kedua aku yang aku bangun selama 1.5 thn belakang ini yaitu organisasiku. Ah aku bosan. Dituntut ini itu. Capek kali aku. Sebelum kepulangan aku, akhirnya teman teman aku mengajak outing ke sebuah bumi perkemahan yang berada di sleman. Senang rasanya aku bisa bebas dari hal hal yang kusukai, akan tetapi itu menjadi hari terakhir ku di kota istimewa.
Letsss have fun di outing kali ini… seru pendamping kami semua. Main games basah kuyup sampai aku jatuh sakit dan lebam lebam.. haha konyol memang. Dan mereka pun mengantarkan aku ke stasiun tugu. Tapi sebelum itu kita ke alun alun sejenak untuk refresh sesaat. Di alun alun itu aku melihat kembali kehangatan dengan teman teman ku dan aku makin tambah kangen sama kota kelahiranku. Cepat cepat ke stasiun ku tak sabar untuk pulang…..
Sesampainya di stasiun, teman teman ku mengantarkan aku ke stasiun. Sedih, itulah raut wajah yang mereka gambar kan kepada ku. Tapi aku tak bisa untuk sedih karena aku harus terlihat tegar walaupun sedih aku tak ingin pulang rasanya. Semasuknya aku dalam kereta, aku menangis sesuka hati ku. Menangis terseguk seguk karena meninggalkan kembali zona nyaman yang aku buat begitu sederhana. Dan aku mulai merasa jatuh hati terhadap dia. Kenapa nyadar nya suka telat sih aku tuh ya. Tapi aku sampai saat ini masih suka contactan sama dia. Video call senang rasanya saats saat itu tiba. Tapi aku tak mau perasaan aku menjadi berubah begitu dalam. Aku takut patah hati. Dan aku belum siap untuk itu. Sekarang aku jalani seperti ini adanya. Sudah mendengar kabarnya saja membuat hati ku senang, sampaikan salam hangat dari ku untuk burjo (warteg khas yk).
Lol, maybe just maybe. Not minding someone’s bussiness maybe just hurts for some people. I’m trying to get that, while I can’t cos I’m basically not having keen interest to others’s issues. When we reveal our lives out to public, then we’re starting to commit to not be able to avoid opinions from them who consume it. That’s kinda the deal. You cannot control those who admiring your shits, nor them who insult it. That is why, just let them be. They know nothing about you, they’re just starting to believe “the you” they’ve been created in their thoughts. You don’t own any responsibilties to please everybody, while in fact you can’t. No one elses either. If you’re comfortable enough in your own skin why some people opinions would matter? You’re just wondering why some people are trying to fit you in the way they think it’s the right way to be, while you don’t. To me it’s total weird but pretty normal. You shouldn’t believe everything that you see on others. Maybe it is maybe it’s not. I’m personally being blessed with some mean manners kinda look. But I AM NOT wanting to be acknowledged as some crazy mean ass bitch to those who willing to get to know me but change their mind. It sucks. Not cool in every possible way I can ever compliance. I laught at my own sucks jokes, but I don’t mind. When others laugh with me it’s such a unexpected bless. I love that idea seeing someone laugh the hell out to your sucks silly behaviour. I’m stressing enough for myself and I just wanna offer the other side of me which I’d love to laugh at. If you like me, thank you. If you don’t I won’t mind, lol please it’s all yours. I let them be cos my craps aren’t just enough to give. I surround myself with those who bring the best of me and I can’t thank you enough for that. People opinions aren’t my thing, so I appologize if I’m not giving you the attention which you wished for.